Tags

, , , , , , , , ,


Hak suami terhadap isterinya adalah isteri tidak menghalangi permintaan suaminya sekalipun semasa berada di atas punggung unta, tidak berpuasa walaupun sehari kecuali dengan izinnya, kecuali puasa wajib. Jika dia tetap berbuat demikian, dia berdosa dan tidak diterima puasanya. Dia tidak boleh memberi, maka pahalanya terhadap suaminya dan dosanya untuk dirinya sendiri. Dia tidak boleh keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika dia berbuat demikian, maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya kembali , sekalipun suaminya itu adalah orang yang alim.” (Hadist riwayat Abu Daud Ath-Thayalisi daripada Abdullah Umar).

Adapun dalam puasa sunat, maka wanita muslimah wajib mendapat izin dari suaminya terlebih dahulu sebelum melakukannya, ini sesuai hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu ;
( لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه )
Artinya : “Seorang wanita tidak halal untuk puasa sedangkan suaminya ada bersamanya (tidak safar) kecuali dengan seizinnya”. (HR Bukhari : 5195, dan Muslim : 1026 , dan dalam riwayat Abu Daud (2458) ada tambahan lafadz : kecuali puasa ramadhan1).

Menurut Hadis diatas menunjukkan bahwa haramnya seorang wanita yang berpuasa sunat baik puasa syawal, senin kamis, ‘asyura dan lainnya kecuali dengan izin sang suami, Alasannya utamanya adalah karena suami memiliki hak untuk mengajak istrinya melakukan “hubungan badan” kapan saja, dan ini tidak bisa dilakukan kalau sang istri sedang berpuasa. Izin ini merupakan suatu hal yang wajib karena ketaatan terhadap suami merupakan kewajiban dan puasa sunat hanyalah sekedar sunat, dan suatu hal yang wajib dalam agama islam adalah jika suatu kewajiban bertentangan dengan amalan sunat maka amalan wajiblah yang dikedepankan.

Namun jika seorang muslimah berpuasa sunat atas izin suaminya, lalu sang suami tersebut menyuruhnya berbuka maka wajib atasnya untuk membatalkan puasanya ,jika enggan maka ia telah dianggap bermaksiat terhadap Allah dan rasulNya karena ia lebih mengedepankan maksiat daripada suatu kewajiban.

Imam Nawawi rahimahullah (Al-Majmu’ : 7 /115) berkata : ” Sebab (wajibnya sang istri minta izin dari sang suami) adalah karena sang suami memiliki hak untuk menggaulinya disetiap hari, dan hak suami ini merupakan kewajiban yang mesti diberikan (oleh sang istri) sesegera mungkin, dan tidak boleh menghalanginya (untuk melayani suami) hanya karena amalan sunat ini atau amalan (puasa) wajib yang memiliki keluangan waktu (yang bisa dilakukan diwaktu lain). Jika ada yang berkata : “Tidak mengapa baginya untuk berpuasa tanpa izin suami, namun ketika suaminya mengajaknya untuk berhubungan badan, maka ia memenuhinya dengan membatalkan puasanya terlebih dahulu”, Maka bantahan terhadap pendapat ini adalah : bahwa menurut kebiasaan (umat islam) : puasanya sang istri ini pasti akan menghalangi hasrat sang suami untuk mengajaknya berhubungan badan, karena tabiat setiap muslim adalah adanya rasa segan dan tidak enak jika harus merusak puasa oranglain.”

Bagaimana jika seorang wanita menjalankan puasa sunat tanpa izin suaminya yang tidak safar (tidak berpergian/atau berada dirumah)? Mayoritas ahli fiqh seperti Imam Nawawi (Dalam Al-Muhadzdazb) menyatakan bahwa puasanya tetap sah, namun ia mendapatkan dosa karena telah melakukan suatu keharaman.

Sangatlah penting dalam memilih istri yang mengerti akan hukum agama (paling utama), bukan karena kecantikan ataupun harta TAPI karena agamanya agar selamat tidak terjerumus kedalam panasnya Api Neraka.

Sabda Rasullullah SAW : “Wanita itu dinikahi karena: hartanya, kecantikannya, keturunannya dan agamanya. maka pilihlah agamanya agar kamu selamat” Hadist Shahih Bukhari.

Namun yang perlu kita (…..ya….Kita, artinya SAYA dan ANDA Para Suami) ingat adalah isterimu dan bahkan juga Istriku, bukanlah seorang (seperti) Siti Khadijah yang baik, taat dan penuh cinta kasih pada suaminya, Istrimu/Istriku adalah (seorang) wanita jaman sekarang; Yaitu Istri jaman yang penuh dengan “hingar-bingar”, Penuh dengan “rayuan dunia semata”, Gadget 24 Jam ON ditangan dan dimata, Infotainments, Tayangan Sinetron yang penuh khayalan semu semata“, Dimana sebenarnya dia butuh bimbingan untuk menjadi wanita yang solehah sebagai Ibu Rumah Tangga.

Namun………..Bagaimana dengan Kehidupan sebenarnya di dalam suatu Ikatan yang disebut Rumah Tangga tersebut ? Apakah bisa sesuai…..sejalan antara Teori dan Prakteknya ? Hanya ALLAH, Dirimu (Suami/Istri) yang lebih mengetahui.

sarRijal

Suami yang baik adalah untuk Istri yang Baik dan Begitupula sebaliknya; Semoga Aku/Kita menjadi salah satu yang mendapatkannya, Amiin Ya Allah,,,,Amiin Ya Rabb.

Wasalam – SAR