Tags

, , , , , , , , , , ,


Manusia itu sifatnya (sebagian) Konsumtif, dan biasanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar; Malu dengan tetangga sebelah rumah, Biar kelihatan Keren, Tajir dan agar disebut OKB alias Orang Kaya Baru.

Beberapa factor tersebut yang bisa/dapat menyebabkan (sebagian) manusia menjadi konsumtif pada hal-hal yang memang dirasa kurang begitu diperlukan, sebagaimana kita ketahui ada yang namanya kebutuhan Primer, Sekunder dan Tertier; yang mana ujung-ujungnya adalah Uang, seberapa besar/Porsi keuangan yang kita punyai/miliki untuk menghidupi kehidupan diri sendiri dan keluarga.

KREDIT, adalah salah satu jalan pintas untuk memiliki sesuatu barang/benda. Tidak butuh biaya besar, hanya melakukan pembayaran awal (DP) dan cicilan setiap bulannya

Ok, kita sebut sajalah kita Melakukan Pembelian Motor/Mobil secara Kredit. Biaya yang diperlukan hanyalah Pembayaran dimuka (DP) dan Cicilan setiap bulannya, dimana Jumlahnya ditentukan oleh Pihak pemberi Kredit alias Kreditur dan kita selaku Debitur.

Adakalanya Cicilan tiap bulan lancar dilakukan, namun terkadang lambat dan tersendat. Dimana hal tersebut sudah tentu berkaitan erat dengan kondisi keuangan. Namun, walaupun yang namanya kredit; sudah pasti ada perasaan “bangga” dengan apa yang sudah dibelinya, sebut saja Motor/Mobil. Bagaimana tidak bangga, walaupun Kredit; yang jelas masih bisa bergaya dan apalagi di STNK sudah tercantum nama kita selaku pemilik motor/mobil (kredit) tersebut. Sudah jadi rahasia umumlah pokoknya.

Lalu, bagaimana disaat kita tidak bisa melakukan pembayaran cicilan tersebut; sebut saja sudah menunggak 2 bulan, 3 bulan atau bahkan sudah berbulan bulan ? Sudah pasti sang pemilik kredit kendaraan bakalan didatangi oleh Tamu Istimewa dari pihak Leasing, yaitu sang DC alias Debt Collector. Biasanya Kendaraan (Kredit) tersebut akan langsung diambil/disita oleh DC – Debt Collector karena kelalaian sang Kreditur yang tidak membayar cicilan kendaraannya.

Pernah mendengar cerita/berita tentang hal tersebut, kan ? Dimana ada kendaraan yang diambil paksa oleh Debt Collector karena yang punya kendaraan gak bayar cicilan atau malah sudah pernah mengalami sendiri kejadian tersebut ?

Banyak kejadian, bahkan di Youtube sempat diunggah/Upload tentang Bagaimana Seorang/beberapa Debt Collector melakukan pengambilan (paksa) Kendaraan karena sang pemilik tidak melakukan pembayaran Cicilan sebagaimana yang sudah diperjanjikan sebelumnya.

Kira-kira, apakah masih pantas kita sebut sebagai JUAL BELI KENDARAAN BERMOTOR atau PEMBELIAN KENDARAAN BERMOTOR ? Kalau menurut pribadi saya (IMHO) istilah Jual Beli / Pembelian kendaraan bermotor (kredit) tersebut harus diganti menjadi SEWA KENDARAAN BERMOTOR.

Loh, mengapa kok bisa menjadi SEWA KENDARAAN BERMOTOR ? Kan kita beli Kendaraan bermotor tersebut ? Pasti semua bingung, kan ?

Begini ya Om-Om sekalian, yang namanya Jual Beli Artinya dijual sama Penjual dan dibeli sama pembeli, Betul, gak ? hahahahahaha, Upss…….Maaf becanda….!

Gak……….gak, Jadi begini;

Jual Beli, secara Aturan (resmi) harus tunduk pada Hukum dan Aturan yang berlaku saat ini, Bukan hanya sebatas Perjanjian Antara Pihak Leasing sebagai pemberi kredit dan kita sebagai pengaju kredit/Debitur. Dimana semua harus jelas, Subject dan Objectnya harus dituangkan didalam Perjanjian Fidusia dihadapan Notaris.

Jual Beli Kendaraan Bermotor saat ini, hampir bisa dikatakan TIDAK melakukan hal tersebut. Dimana Pihak Leasing hanya sebatas mengumbar kata bahwa semua sudah diperjanjian kedalam Perjanjian Jual Beli yang di-Ikat didalam UU Fiducia…………(Please dech…..)

  • Apakah para pembeli Kendaraan bermotor membaca Surat Perjanjian yang dimaksud,
  • Apakah para pembeli Kendaraan bermotor mengerti dan Paham dengan Surat Perjanjian yang dimaksud
  • Apakah benar Surat Perjanjian Fidusia tersebut di Daftarkan secara Resmi ke Pejabat Negara ?

Para pembeli, Boleh dikatakan……..(mungkin sebagia) Tidak membaca isi surat perjanjian, tidak mengerti dan tidak tau. Karena biasanya, mereka hanya disodori Surat Perjanjian untuk ditanda-tangani, bukan untuk dibaca. Kalaupun dibaca, ya itupun sesudah ditanda tangan. Loh kok bisa, yah maklum ajalah, yang penting Motor/Mobil cepat selesai urusan admisitrasinya dan kendaraan bisa dipakai. Bener apa Tidak ??? Hayo ngaku……..

Misalnya begini;

Dibawah ini adalah salah satu Contoh Lampiran dari sebuah Perjanjian Jual Beli Kendaraan oleh salah satu Leasing di Indonesia. Jika dicermati banyak yang janggal, Misal yang saya beri warna merah………..”Jika Debitor Meninggal maka Hutang harus tetap dibayar Lunas. Padahal hal ini bertolak belakang dengan Jaminan Asuransi Kecelakaan yang terikat dengan Jual Beli Kendaraan tersebut.

20160203_111239-1

Lalu, jika kita lihat poin-poin diatas, bahwa pihak Leasing/Kreditur berhak mengeksekusi Kendaraan dimana saja dan ditangan siapa saja dan itu juga tanpa melalui Pengadilan. Coba Check kembali, Mana yang benar dan mana yang salah ? Apakah benar UU Fidusia menyebutkan seperti itu ?

Banyak terjadi “kerancuan” di dalam SEWA KENDARAAN BERMOTOR tersebut………eh JUAL BELI KENDARAAN BERMOTOR maksudnya….

Apakah kita sudah tau apa itu PERJANJIAN FIDUSIA ?

Untuk lebih jelasnya silahkan Check dan Click DISINI

Perjanjian fidusia adalah perjanjian hutang piutang kreditor kepada debitor yang melibatkan penjaminan, dimana fungsinya untuk menjamin kepastian hukum bagi kreditor, maka dibuatlah akta oleh notaris dan didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia.

Ok, Bagaimana ? Paham gak kira-kira ? Apa yang dijaminkan, Sudah tentu Kendaraan Bermotor yang kita maksud tadi. Coba dibaca lagi UU Fidusia tersebut, supaya lebih mengerti dan paham.

Setelah Perjanjian Fidusia didaftarkan, maka sang/si Kreditur akan mendapat sertifikat fidusia (Original) dan salinannya diberikan kepada debitur. Dengan adanya sertifkat tersebut, si kreditur atau penerima fidusia mempunyai hak eksekusi langsung (parate eksekusi), seperti terjadi dalam pinjam meminjam dalam perbankan. Kekuatan hukum sertifikat tersebut sama dengan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

Dibawah ini adalah salah satu Poin isi Perjanjian antara Kreditur dan Debitu, Jika kita perhatikan Poin ini juga bertolak belakang dengan Point (gambar diatas) sebelumnya. Gimana hayo……..? Kalau gak teliti, bisa bahaya kalau begini Boss….!

20160203_111043-1

Maka Perjanjian Fidusia itu Sangat Penting ? Karena Jika terjadi sesuatu terhadap Penerima Fidusia, maka ia dapat meminta kepada pengadilan setempat untuk melakukan pengamanan, sudah tentu melalui juru sita. Dimana Juru sita tersebut akan membuat surat penetapan permohonan bantuan pengamanan eksekusi kepada pihak/instansi terkait; Misal apparat kepolisian, dan sebagainya.

Itu jika dilakukan/ didaftarkan ke Pejabat Negara yang berwenang, Lain halnya seperti dilapangan saat ini; kebanyakan hanya dilakukan dibawah tangan saja alias Perjanjian Fidusia abal-abal.

Lalu bagaimana jika Kendaraan kita diambil paksa/disita oleh pihak ketiga ? sebut saja bukan dari badan penilai harga yang resmi atau badan pelelangan umum ? Itu artinya pihak yang melakukan penyitaan tersebut sudah melakukan pemaksaan dan perampasan. Padahal itu Kendaraan kita ? Walaupun Kredit……STNK ada tercantum nama kita. Walaupun sifatnya masih sebagian alias 50:50

Di Dalam Pasal 368 KUHPerdata, disebutkan bahwa ……”Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan.

Hal ini masuk ke ranah Hukum Perdata, ya ? Ingat Hukum Perdata Loh….Bukan Pidana.

Memang……..benar; Kita, Saya sendiri dan Masyarakat lainnya…..Bahkan masih banyak petugas kepolisian yang belum mengetahui secara persis apa itu Jaminan Fidusia. Sehingga jika terjadi masalah di Lapangan yang berhubungan dengan Kredit Kendaraan yang macet dan Ulah para Debt Collector, Kita hanya bisa PASRAH TAPI TAK RELA.

Ingat…..Ingat;

Kendaraan Kredit yang sudah disita oleh “oknum” tersebut, bukan berarti kita sudah tidak punya hutang lagi, jangan berpikir aman dan lega. Mengapa ? Kok Bisa ? Karena nama anda masih terdaftar sebagai “DAFTAR HITAM” di BI sebagai orang yang tidak melakukan pelunasan pembayaran.

Kok bisa ? yah sudah jelas bisalah, Karena sang Oknum belum tentu melaporkannya (dapat dipastikan gak bakalan deh……) Lagian, Kendaraan yang disita tersebut bakalan dijual lagi sama mereka ke orang lain. Gak percaya ??? Noh…..Silahkan tanya ke Mbah Google supaya lebih ngerti dan paham.

Mudah-mudahan kita semakin cerdas,,,

Pastikan semua resmi dan terdaftar,,,

Kredit = Hutang = Sengsara

#Sar279